
Nekat Bertanding Meski Cedera, Khoirine Moriesta Raih Medali Perunggu
Gelora semangat dan dentuman teriakan dukungan memenuhi GOR Universitas Negeri Yogyakarta pada 19–21 Juni 2026, ketika International 2nd Gelora Taekwondo Indonesia Championship 2026 resmi digelar. Kejuaraan berskala internasional bertema “Welcome to the Jungle” itu menghadirkan atmosfer kompetisi yang intens, dengan lebih dari 3.000 atlet dari 21 provinsi di Indonesia dan 188 dojang serta peserta dari lima negara: Indonesia, Australia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Timor Leste.
Di tengah hiruk-pikuk perebutan medali, satu nama perempuan muda mencuri perhatian: Khoirine Moriesta Nuraini, yang akrab disapa Riesta. Ia turun di kategori Profesional Kyorugi Senior U-62 Female dan berhasil membawa pulang medali perunggu (Bronze Medal), sebuah pencapaian yang menjadi puncak dari perjalanan bertanding yang tidak mudah.
Bagi sebagian atlet, memasuki arena tanding dengan kondisi fisik prima adalah syarat mutlak. Namun bagi jebolan Leadership Development Program Batch 3 Garda Institute ini, keputusan naik ke matras justru diambil ketika tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Beberapa waktu sebelum kejuaraan, ia mengalami cidera partial rupture pada bagian kaki, yang membuatnya harus menjalani masa pemulihan dan membatasi intensitas latihan. Dalam kondisi yang oleh banyak orang mungkin dianggap alasan kuat untuk mundur, Riesta justru memilih bertahan dan bersiap menghadapi lawan-lawan dari dalam dan luar negeri.
Keputusan itu tidak lahir dalam semalam. Riesta menghabiskan hari-hari menjelang kejuaraan di antara sesi fisioterapi, latihan teknik yang dimodifikasi, dan diskusi serius dengan pelatih dan dokter mengenai risiko yang harus ditanggung jika tetap bertanding. Setiap gerakan yang biasanya otomatis kini harus diperhitungkan dengan cermat, agar tidak memicu kerusakan lebih parah pada cidera partial rupture yang masih dalam proses pemulihan. “Rasa sakit itu ada, tapi rasa ingin membuktikan diri lebih kuat,” demikian kira-kira gambaran motivasi yang menyelimuti langkah Riesta menuju GOR UNY.
Pertandingan demi pertandingan menjadi ujian bukan hanya soal teknik, tetapi juga mental. Setiap sabetan, tendangan, dan dorongan menguji ketahanan bagian tubuh yang cedera. Di titik-titik kritis, pilihan Riesta selalu sama: bertahan sedikit lebih lama, bergerak sedikit lebih cepat, dan tetap menjaga fokus pada strategi, bukan pada rasa nyeri. Dari luar, penonton hanya melihat seorang atlet yang terus berjuang; dari dalam, Riesta berhadapan dengan batas-batas fisiknya sendiri.
Hasil akhirnya adalah medali perunggu yang terasa jauh lebih berat daripada sekadar potongan logam di leher. Di atas podium, nama Khoirine Moriesta Nuraini dipanggil sebagai peraih Bronze Medal kategori Profesional Kyorugi Senior U-62 Female, di antara riuh tepuk tangan penonton dan rekan-rekan atlet. Dalam suasana yang penuh selebrasi, cerita sesungguhnya justru terletak pada keberanian mengambil risiko dan disiplin menjaga keseimbangan antara ambisi dan kesehatan. (YB).

